Loading...

Asa Baru di Lahan Pasang Surut

18:56 WIB | Friday, 20-June-2014 | Hortikultura, Komoditi | Penulis : Kontributor

Budidaya Bawang Merah

 

Banyak yang apatis melihat potensi lahan pasang surut. Dengan luasan lahan yang jutaan hektar, potensi pengembangan lahan pasang surut untuk pertanian sangatlah besar. Salah satunya adalah untuk budidaya bawang merah.

 

Contoh yang merasakan manfaat pengembangan lahan pasang surut adalah Luqman (32 tahun). Petani di Desa Mekar Tani, Kecamatan Mendawai, Kabupaten Katingan mendapat keuntungan besar dari usahanya menanam bawang merah di lahan yang selama ini dianggap kritis.

 

Luqman merupakan pendatang dari Sape, Bima. Sejak kelas 3 sekolah dasar sudah membantu orangtuanya menanam bawang merah di kampungnya di Nusa Tenggara Barat. Namun sejak delapan tahun dia mencoba menanam bawang merah di lahan pasang surut.

 

“Saya fokus menanam bawang merah di lahan pasang surut, ternyata lahan ini bisa memberikan harapan untuk masa depan,” kata Luqman. Optimisme Luqman mengembangkan bawang merah di lahan pasang surut tidak lain karena harganya yang cukup menggiurkan. Di wilayah Sampit mencapai Rp. 20.000/kg. Sementara di Bima, NTB hanya Rp 2.500/kg.

 

Luqman adalah salah satu petani yang berhasil memanen bawang merah di tanah yang hanya memiliki pH 5,4. Dengan pH air parit saat pasang 5,7 dan saat air parit surut pHnya sangat rendah mencapai 4,5. Dengan jumlah umbi bibit bawang merah yang ditanam sebanyak 20 kg yang dibeli di Pasar Sampit, Luqman berhasil memanen tanaman bawangnya hingga 80 kg/ha.

 

Luqman memberikan tips dalam budidaya bawang merah di lahan pasang surut. Pemilihan air penyiraman menurut dia, sangat penting jika menggunakan air saluran primer. Air yang diambil dari saluran primer harus pada kondisi pasang. Sebab, pH airnya tidak terlalu masam.

 

Namun lanjut Luqman, jika air di saluran primer surut, pH airnya sangat masam. Hal ini karena air yang mengalir dari hutan bercampur dengan tanah gambut. Penyiraman yang mengikuti pola pasangnya air di saluran primer, menyebabkan Luqman pernah menyiram pada tengah malam. Sebab, air pasang datang saat itu.

 

Bukan hanya Luqman yang berhasil memanen bawang merah di lahan pasang surut. Andreas salah seorang petani di Desa Manggala Permai (eks UPT Dadahup G5/Eks PLG Sejuta Hektar) juga merasakan hal yang sama dengan Luqman.

 

Dengan tanah potensial yang memiliki pH tanah 5,7, pH air parit 3,0 dan pH air sumur bor sedalam 130 meter sebesar 6,0. Andreas berhasil memanen bawang merah asal Sumenep. Dengan 10 kg bibit bawang merah, dia mampu menghasilkan 70 kg/ha.

 

Begitu juga dengan Mursyid salah seorang petani di Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur. Dia berhasil memanen bawang merah di tanah pasir kuarsa. Kondisi tanahnya memiliki pH 5,0, pH air parit 4,0 dan pH air sumur bor sedalam 8 meter 4,0. Dengan modal benih bawang merah sebesar 10 kg, Mursyid mampu memanen sebanyak 105 kg/ha.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162