Loading...

Bahaya Tersembunyi Beberapa Varietas Invasif

11:52 WIB | Monday, 24-March-2014 | Agri Wacana | Penulis : Kontributor

Oleh: Dr. Ir. Soemitro Arintadisastra M.Ed

 

Kerugian yang diakibatkan ledakan varietas invasif setiap tahun mencapai triliun rupiah dan menjadi salah satu penyebab terjadinya kemiskinan di pedesaan Indonesia. Varietas invasif memiliki bentuk dan macam yang beraneka ragam, ada yang berbentuk hama, ada yang berbentuk gulma, ada yang berbentuk hewan serta ada yang berbentuk tanaman hutan.

 

Dampak negatif dari perkembangbiakan varietas invasif ini ada yang kasat mata, ada juga yang tidak tampak, ada yang tampak seperti penolong padahal parasit ada yang terlihat hanya akibat negatifnya saja dan ada yang jangka panjang menyebabkan terjadinya kemiskinan.

 

Serangan varietas invasif berupa gulma, alang-alang, "imperata cylindrika", merupakan gulma yang perkembangbiakannya sangat cepat karena biji alang-alang dapat diterbangkan ke mana-mana, biji yang ringan memiliki parasut dan akarnya rhizome sulit diberantas. Kerugian yang disebabkan karena alang-alang bukan saja menyebabkan tanah menjadi kurus, tanaman ini pada musim kemarau mudah terbakar, yang memusnahkan tanaman lainnya.

 

Akibatnya gulma di Provinsi Riau, Jambi, Kalimantan Barat pada musim kemarau penuh dengan asap yang mengganggu pernapasan, penerbangan dan kehidupan. Pemberantasan yang cepat akan tetapi sangat mahal, pemberantasan dengan herbisida Dowpon, Dalapon dan Ametrin pada saat awal bertunas.

 

Tanaman besar/tanaman hutan yang merupakan varietas invasif yang mengundang kebakaran adalah tanaman pinus merkusii, tanaman cemara/casuarina, acasia mangium, agathis alba. Tanaman ini penyebab kebakaran besar di California, USA, Australia dan Indonesia, Bukit Soeharto di Kalimantan Timur, kebakaran di Brastagi sekitar Danau Toba, kebakaran di Pandaan Jawa Timur.

 

Tanaman pinus, acasia mangium, bukan asli Indonesia, akan tetapi dapat tumbuh dan hidup subur di Indonesia. Keburukan dari tanaman ini, serasah dan daun-daun yang berguguran sulit menjadi busuk, sulit berubah menjadi tanah, setelah 4-5 tahun tetap sebagai serasah yang menumpuk, karena daun tanaman ini memiliki kadar silica sangat tinggi dan mengandung minyak yang mudah terbakar. Bukan cuma daunnya saja, ranting dan batangnya pun mengandung resin yang bisa disadap dan mudah terbakar. Tumpukan daun kering yang tebal ini, membunuh mikro biotik tanah, mengundang kebakaran.

 

Di sisi lain masyarakat tani dan masyarakat desa memiliki kebiasaan mengisap rokok kretek, suka membuang puntung rokok sembarangan, puntung rokok yang jatuh pada tumpukan daun kering, menyebabkan kebakaran. Cara upaya mengatasinya? Kita hindari mengembangkan tanaman pengundang kebakaran, kembangkan tanaman asli Indonesia, antara lain : tanaman jabon, albazia falcata, meranti, tanaman suren.

 

Kambing dan babi yang berkeliaran merupakan varietas invasif yang lebih berbahaya dari hama tikus. Kambing dan babi yang berkeliaran tidak diangon mengakibatkan dampak negatif yang sangat merugikan, akan tetapi tersembunyi dan tidak terlihat karena tertutupi dengan harga jual daging kambing dan babi yang cukup tinggi.

 

Akibat dari kedua macam hewan yang dibebaskan berkeliaran, dalam jangka panjang menyebabkan daerahnya menjadi gersang, masyarakatnya miskin. Dampak lainnya pada daerah yang memelihara hewan babi yang berkeliaran biasanya kumuh, bau, karena kotoran babi bertebaran di mana-mana, banyak kubangan-kubangan lumpur dan penduduknya berpenyakitan, terutama penyakit kulit dan abdomen.

 

Mengapa masyarakat di daerah yang ada hewan kambing dan babinya berkeliaran miskin dan sering terjadi kelaparan? Masyarakat di daerah di mana kambing dan babi yang dibiarkan berkeliaran, tidak ada yang berani untuk bertanam tanaman bahan makanan seperti tanaman ubi jalar, talas, ketela pohon, jagung, pisang, kacang tanah, karena tanaman ini akan diganyang/dimakan habis oleh hewan kambing dan babi yang berkeliaran.

 

Bagaimana cara mengatasinya? Peran Pendeta, Ketua Suku, Lurah, Camat dan PPL harus meyakinkan masyarakat akan bahayanya berternak yang diliarkan dan menjelaskan akan keuntungan berternak sistem kandang. Ada satu cara yang efektif untuk mencegah berternak secara liar; yaitu "Metode Penjara Ternak" model Bone (Sulawesi Selatan).

 

Ketela pohon (Manihot Utilisma) adalah tanaman yang mudah tumbuh di mana-mana, di daerah subur maupun di daerah gersang dan miskin. Tanaman ketela pohon banyak kita jumpai di daerah gersang dan miskin, ada kesan seolah-oleh ketela pohon adalah tanaman yang menyelamatkan masyarakat dari kemiskinan dan kelaparan. Dalam kenyataannya tanaman ketela pohon dapat tumbuh di mana-mana bahkan tanpa dipupuk dan dipelihara ia tumbuh, dan tanaman ini menghisap hara dari tanah habis-habisan.

 

Tanaman apapun yang ditanam setelah tanaman ketela pohon akan kurus dan produksinya rendah, tidak menguntungkan, di sinilah terjadi proses pemiskinan yang tidak ketara " Disguised Poverty Process".

 

Kalau kita menanam tanaman ketela pohon sebaiknya menggunakan sistem budidaya yang baik. Tanah diolah lebih dahulu, menanam varietas unggul, varietas gajah atau darul hidayah, menggunakan pupuk organik 6 ton/ha. Tanaman diairi setiap 2 minggu sekali.

 

Apabila kita menanam tanaman ketela pohon dengan cara budidaya yang baik, maka usaha budidaya ketela pohon merupakan usaha yang prospektif dan sangat menguntungkan. Ketela pohon merupakan "komoditi ajaib" tanam ketela pohon cepat kaya. Dapat dibayangkan menanam ketela pohon dengan teknologi seadanya hanya 10 ton/ha, akan tetapi dengan budidaya dan teknologi bagus, bisa menghasilkan 100 ton/ha, sepuluh kali lipat (1.000%).

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162