Loading...

Blas Masih Menghantui Petani Padi

09:39 WIB | Tuesday, 07-April-2015 | Nusantara | Penulis : Ika Rahayu

Penyakit tanaman Blas hingga kini masih menjadi momok bagi sebagian besar petani padi. Meski upaya-upaya pencegahan sudah dilakukan, tetap saja masih kerap muncul serangan blas terutama di musim penghujan.

 

“Penyemprotan fungisida sudah kami lakukan, setiap hari juga kami mengontrol kondisi tanaman tetapi kalau penyakit blas sudah datang ya kami hanya bisa pasrah,” kata Sokip, petani asal Desa Carang Rejo Kabupaten Jombang Jawa Timur, yang dijumpai Sinar Tani di tengah acara peluncuran produk baru BASF “Seltima”, belum lama ini.

 

Menurut pria 74 tahun ini, didaerahnya penyakit blas sering disebut sebagai penyakit “potong leher” karena bila tanaman terserang penyakit ini biasanya batang tanaman menjadi terkulai  dan dalam kondisi parah menyebabkan bulir padi tidak berisi.

 

“Umumnya penyakit mematikan tersebut menyerang tanaman padi di usia tanaman 2,5 bulan ke atas di saat tanaman padi mulai belajar berbuah.  Kalau tanaman masih muda relatif masih aman,” jelas anggota Kelompok Tani Carang Puspo tersebut.

 

Seltima Sebuah Solusi

 

Memperhatikan keluhan petani padi tersebut, pada tanggal 17 Maret 2015, PT. BASF Indonesia secara resmi telah meluncurkan produk fungisida terbaru “Seltima” yang bisa menjadi solusi dan efektif untuk mencegah serangan penyakit blas pada tanaman padi.

 

Menurut Marketing Manager Divisi Crop Protection PT. BASF Indonesia, Wahyu Prihandoyo, keistimewaan dari Seltima di samping dapat mengendalikan penyakit blas pada tanaman padi juga mampu memaksimalkan fungsi  enzim-enzim di dalam tanaman.

 

“Dalam kondisi demikian maka produktivitas padi bisa meningkat 10-15 persen,” tuturnya. Karena fungsi enzim meningkat maka jumlah anakan tanaman menjadi lebih banyak  malai lebih panjang dan gabah menjadi lebih bernas atau berisi jika tanaman padi  diaplikasikan Seltima.

 

Untuk membuktikan kehebatan dari produk Seltima, pada kesempatan launching produk petani Desa Carang Rejo, tempat penyelenggaraan acara, diberi kesempatan untuk menyaksikan langsung kondisi pertanaman yang telah diaplikasikan dengan Seltima yang memang menunjukkan performa memuaskan. Daun tanaman terlihat lebih hijau meski  sudah menghasilkan bulir padi yang berisi dan siap untuk dipanen. Ira  

 

 

 

Varia daerah 8 April 2015

 

Luwu Utara, Sulsel

 

Sertifikat Prima 3 untuk Durian Otong

 

Seorang petani durian yang juga berprofesi sebagai Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Maskain, secara resmi telah  menerima Sertifikat Produk Prima 3 atas buah  Durian Otong yang dihasilkan dari kebunnya.

 

Sertifikat Produk Prima 3 tersebut diberikan  Kepala Badan Ketahanan Pangan Daerah (BKPD) Sulawesi Selatan, Asri Pananrang, langsung kepada Maskain di sela acara Rakor Dewan Ketahanan Pangan bertempat di Aula La Galigo Kantor Bupati, Februari lalu (23/2).

 

Durian otong tergolong  sebagai durian primadona di Kabupaten Luwu Utara. Dengan diperolehnya sertifikat produk Prima 3 maka berarti durian otong yang dihasilkan oleh Maskain tak perlu diragukan lagi dalam hal keamanan pangannya sehingga sudah bisa bersaing dengan buah-buah bersertifikat lainnya yang banyak dijual di mal-mal di kota-kota besar. Lukman Hamarong/Ira

 

 

 

Halmahera Utara, Malut

 

Petani Lokal  Butuh Dukungan Saprodi

 

Petani lokal yang bermukim di Desa Tutumalelo di wilayah Kabupaten Halmahera Utara Provinsi Maluku Utara (Malut) mengeluhkan masih minimnya ketersediaan  sarana dan prasarana pendukung kegiatan usaha tani di daerah mereka. Peran serta pemerintah pusat dan daerah sangat mereka harapkan.

 

Sejak tahun 2012 masyarakat Desa Tutumalelo banyak yang mulai  beralih dari bertani kelapa untuk menghasilkan kopra menjadi petani padi sawah untuk menghasilkan gabah dan beras. Produktivitas pertanaman padi mereka cukup memuaskan, di mana dari 0,5 hektar sawah bisa dihasilkan sekitar 1,8 ton beras.  

 

Persoalannya, dalam melaksanakan  budidaya padi sawah para petani masih terhalang oleh keterbatasan sarana produksi padi (saprodi) seperti belum tersedianya pupuk, terbatasnya jumlah traktor untuk pengolahan lahan serta belum memadainya  sistem irigasi dan drainase yang ada. Petani berharap pemerintah dapat membantu dalam hal perbaikan saluran irigasi sehingga ke depan  indeks pertanaman (IP) bisa ditingkatkan dari dua menjadi tiga. Novendra CN/Ira

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162