Loading...

Budidaya Bawang Merah, Menengok Tumpangsari di Desa Panembong

09:15 WIB | Tuesday, 19-January-2016 | Hortikultura, Komoditi | Penulis : Kontributor

Bawang merah selama ini menjadi trade mark komoditi asal Brebes. Bahkan saking ngetop-nya, impor bawang merah kerap masuk terlebih dahulu ke kota di Pantai Utara Jawa Tengah tersebut, lalu diperdagangkan ke berbagai kota di Indonesia.

 

Karena itu gejolak harga bawang merah di Brebes menjadi patokan di wilayah Indonesia lainnya. Namun di tengah pamor bawang merah Brebes, kini mulai berkembang kawasan bawang merah di kota-kota lainnya. Salah satunya di Garut, Jawa Barat.

 

Tepatnya di Desa Panembong, Kecamatan Bayombang, Kabupaten Garut kini dikenal sebagai sentra penyangga bawang merah. Produksi bawang merah yang dihasilkan petani Desa Panembong  tak kalah dengan petani di Brebes. Rata-rata mencapai 8-10 ton/ha.

 

Jahe dan Jagung

 

Berbeda dengan di Brebes yang menanam bawang secara monokultur. Umumnya, petani di Desa Panembong menanam bawang merah sistem tumpangsari dengan jahe atau jagung.    Di atas lahan berbukit seluas 800 ha ini, petani Desa Panembong  bisa panen bawang tiap 75 hari sekali. Selain bawang merah, petani juga masih bisa panen jagung tiap  tiga bulan sekali dan jahe selama satu tahun sekali.

 

“Pola tanam bawang merah yang dilakukan di Garut memang beda dengan di Brebes. Kalau di Brebes, satu hamparan ditanami bawang merah semua. Tapi, di sini (Garut, red) petani menanamnya dengan sistem tumpangsari. Ada yang melakukan tumpangsari dengan jagung dan ada juga dengan jahe,” kata Direktur Budidaya dan Pasca Panen Sayuran dan Tanaman Obat, Ditjen Hortikultura, Kementerian Pertanian, Yanuardi di Garut, beberapa waktu lalu.

 

Menurut Yanuardi, petani bawang merah di Garut ketika melakukan pola tanam tumpangsari dipastikan akan mendapatkan keuntungan ganda. Bisa dibayangkan, untuk tanaman bawang merah, petani bisa meraup puluhan hingga ratusan juta rupiah tiap kali musim panen.

 

“Tak lama setelah panen bawang merah, petani bisa panen jagung. Bahkan, sembari menanam benih bawang, mereka masih bisa memanen jahe pada musim tanam berikutnya,” katanya.

 

Lahan pertanian di Garut dengan kontur berbukit-bukit memang relatif cocok untuk pola tanam tumpangsari antara bawang merah dengan jahe atau jagung. Potensi lahan yang bisa dimanfaatkan untuk tanaman bawang merah di kawasan ini juga masih luas.

 

Selain di Kecamatan Bayombang, menurut Yanuardi, masih ada empat kecamatan lain yang potensial untuk mengembangkan tanaman bawang merah. “Kita harapkan di Garut ini bisa menjadi sentra penyangga bawang merah setelah Brebes,” ujarnya.

 

Keempat kecamatan lainnya yang potensial untuk pengembangan tanaman bawang merah adalah,  Kecamatan Sucinaraja (200 ha), Ciluwu (100 ha),  Cisurapan (50 ha), dan  Samurang (40 ha). “Petani di lima kecamatan ini memang fokus mengembangkan tanaman bawang merah,” kata dia.

 

Yanuardi mengatakan, keberhasilan tanaman bawang merah sangat tergantung dengan cara merawat tanaman tersebut. Artinya, selain dilakukan pemupukan dengan baik, bawang merah secara berkala harus rajin disemprot untuk mengurangi serangan sejumlah hama dan penyakit.

 

Petani Desa Penembong biasanya mulai menanam bawang merah awal tahun. Apabila bawang merah ditanam awal tahun, diperkirakan awal Maret sudah panen. Tapi, ada juga yang menanam November dan Desember. “Nah, sebagian bawang merah yang ditanam pada November tahun 2015 sudah bisa dipanen pada pertengahan Januari 2016,”  kata Yanuardi.

 

Surplus Bawang

 

Dengan makin banyaknya sentra bawang merah, Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat produksi komoditi tersebut akan surplus. “Selain di Brebes, Garut dan sejumlah daerah di Jawa kita juga mulai mengembangkan tanaman bawang merah di Enrekang, Sulawesi Selatan,” kata Yanuardi.

 

Catatan pemerintah, selama tahun 2015 produksi bawang merah mencapai 1.256.710 ton. Dengan kebutuhannya hanya 947.385 ton, terjadi surplus sebanyak 318.325 ton.

 

Pada tahun 2016 diperkirakan produksi bawang merah akan meningkat mencapai 1.291.123 ton. Jika kebutuhan bawang merah sebanyak 880.179 ton, maka diperkirakan pada tahun ini akan terjadi surplus sebanyak 449.321 ton.

 

Bahkan dengan surplus produksi, pada tahun 2015 Indonesia berhasil mengekspor bawang merah. Tercatat, sekitar 14.100 ton bawang merah dikirim ke sejumlah negara Asean seperti Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Singapura.   “Tahun ini, kita juga akan ekspor bawang merah. Karena kita perkirakan akan terjadi surplus sebanyak 449.321 ton,” ujarnya.

 

 

 

Petani Masih Tergantung Tengkulak

 

Ketergantungan petani terhadap tengkulak hingga kini masih sulit dihindari. Posisi tawar petani yang rendah membuat petani sulit melepas ketergantungan tersebut. Apalagi petani memang kurang informasi pasar.

 

Begitu juga yang terjadi pada komoditi bawang merah. Contohnya, di sentra bawang merah Garut. Petani masih banyak tergantung tengkulak dalam memasarkan hasil produksinya.

 

Dari hasil pantauan Sinar Tani, petani umumnya menjual bawang merah melalui tengkulak atau pedagang pengumpul. Di tingkat pengepul harga bawang merah sekitar Rp 12.000‎-12.500/kg. Sementara di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta harganya bisa melonjak hingga Rp 22 ribu/kg.

 

 “Kalau bicara tentang harga, di setiap daerah beda-beda. Saya juga tak tahu mengapa harga bawang merah di Jakarta begitu tinggi,” kata Yanuardi. Harga bawang merah di Brebes saat ini sudah mencapai Rp 25 ribu/kg.

 

Diakui, harga bawang merah sangat ditentukan pasar, sehingga harga di tingkat petani sangat jauh beda dengan di pasar. Artinya, harga bawang merah di pasar (Jakarta ) bisa mencapai dua kali harga di tingkat petani. “Kalau kita tak bisa menentukan harga. Yang menentukan harga, pasar. Kita hanya bisa mendorong  petani meningkatkan produksi agar kita tak impor bawang merah,” tegasnya.

 

Yanuardi juga menilai, mestinya harga bawang merah dari Garut ke Jakarta bisa ditekan. Alasannya, distribusi barang dari Garut ke Jakarta lebih mudah. Jalan menuju lahan bawang merah rata-rata sudah diaspal. Akses jalan ke Jakarta juga lebih mudah.

 

Impor Bawang

 

Meski sudah mampu ekspor, Yanuardi mengakui,  pada Januari-September 2015, Indonesia masih impor bawang merah‎ sebanyak 15.700 ton. Impor bawang merah sebelum September 2015, untuk memenuhi kebutuhan industri.

 

Mengapa sebelum September 2015 kita masih impor? Karena pelaku industri makanan lebih memilih bawang merah impor. Alasannya, pada bulan tertentu harga bawang dari luar lebih murah dibandingkan harga bawang merah lokal. “Kadang harga bawang dari luar pada bulan-bulan tertentu lebih murah, sehingga  mereka memilih untuk impor,” kata Yanuardi

 

Namun, Kementan mulai melakukan pengendalian impor bawang merah. Terhitung sejak  Juni 2015, Menteri Pertanian Amran Sulaiman memperketat impor bawang. Hal ini dilakukan untuk melindungi petani bawang merah dalam negeri. “Kita juga ingin agar pendapatan petani meningkat,” kata Yanuardi.

 

Yanuardi menambahkan, impor bawang merah terjadi sebelum September 2015.  Bahkan impor bisa ditekan setelah pemerintah melakukan pengendalian impor bawang merah. “Setelah ada pengendalian impor, maka impor bawang merah bisa ditekan hingga 78 persen dibanding tahun 2014 (87.000 ton),” ujarnya.

 

Data Kementan menyebutkan, impor bawang merah Januari-September 2015  sebanyak 15.700 ton. Sedangkan pada periode yang sama tahun 2014, impor bawang merah  mencapai 87.000 ton.  Tercatat ada penurunan nilai impor sebanyak Rp 295 miliar.

 

Yanuardi yakin, tahun ini tak akan ada lagi impor bawang merah. “Jangan sampai kehancuran bawang putih pada tahun 1996  terjadi pada bawang merah. Karena itu, kita kendalikan impor bawang merah,” katanya. Idt/Yul

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Julianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162