Loading...

Budidaya Bengkoang, Peluang Basah di Lahan Kering

10:29 WIB | Monday, 26-January-2015 | Olahan Pasar, Non Komoditi | Penulis : Kontributor

Bengkoang (Pachyrhizus erosus) banyak dibudidayakan masyarakat secara luas, baik di pekarangan maupun kebun sebagai tanaman sela atau tumpangsari dengan tanaman tahunan. Di sentra, seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, bahkan Sumatera, bengkoang ditanam sebagai sela di antara tanaman kelapa.

 

Tanaman bengkoang tidak banyak memerlukan air, sehingga cocok dibudidayakan di kebun atau tanah tadah hujan yang hanya mengandalkan air hujan. Penanaman yang tepat pada awal musim hujan dengan harapan saat pertumbuhan vegetatif tanah dalam keadaan basah dan gembur. Dengan demikian penyerapan unsur hara berjalan sempurna, akhirnya dapat mempercepat perkembangan umbi.

 

Meski tanaman bengkoang tidak banyak memerlukan air, tapi di wilayah Indonesia yang memang airnya terbatas, tanaman ini belum banyak dibudidayakan masyarakat. Satu contoh di Lombok Timur. Tanaman ini belum dibudidayakan secara sempurna dan masih terkesan tumbuh liar. Padahal jika dibudidayakan secara baik dan benar, maka tanaman ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

 

Untuk yang mau mencoba budidaya bengkoang sebenarnya tidak sulit. Bagaimana caranya? Bisa mengikuti trik sederhana ini:

 

Pengolahan Tanahdan Penanaman

 

Pembongkaran tanah atau pengolahan tanah dilakukan saat musim kemarau yaitu September-November. Tanah dicangkul atau dibajak. Bongkahan tanah yang besar dihancurkan dan dibuatlah guludan atau bedengan-bedengan dengan panjang tidak lebih 10 meter dan lebar bedengan 80-100 cm, tinggi 20-30 cm. Jarak antara bedengan yang satu dengan yang lain 40-50 cm.

 

Cara membuat bedengan dengan mencangkul tanah di sisi kiri dan sisi kanan dari arah yang berlawanan. Dengan demikian terbentuk bedengan dan parit. Parit ini nantinya berfungsi menampung dan mengalirkan air saat hujan deras. Setelah bedengan selesai, biarkan terjemur diterik matahari agar sisa-sisa gulma mengering, bibit hama maupun penyakit juga akan mati. Sambil menunggu waktu tanam di musim hujan, tanah di permukaan bedengan ditaburi pupuk organik atau pupuk kandang 1 karung per bedengan atau 10-20 ton/ha.

 

Sedangkan untuk menanam bengkoang sebaiknya setelah turun hujan 1-2 kali atau jika tanah bedengan sudah basah hingga kedalaman 30-50 cm. Keadaan tanah yang basah ini berfungsi membantu proses perkecambahan. Selain menggunakan biji, bengkoang dapat pula ditanam umbinya. Tapi untuk tujuan produksi atau komersial sebaiknya menggunakan biji.

 

Sebelum penanaman sebaiknya diseleksi dahulu. Caranya dengan memilih biji yang berukuran sedang sampai besar, tidak keriput atau tidak rusak karena OPT. Untuk mengetahui biji bengkoang yang baik, caranya lakukan perendaman dengan larutan air dan garam.

 

Biji yang baik akan tenggelam. Sedangkan yang jelek akan mengapung. Biji yang tenggelam diambil dan dicuci atau dibilas dengan air bersih. Selanjutnya dapat juga direndam dengan larutan insektisida agar biji tersebut tidak dimakan semut saat ditanam.

 

Sebelum penanaman sebaiknya permukaan tanah pada bedengan diratakan kembali. Lalu buatlah lubang tanam menggunakan tugal yang berdiameter 5 cm dengan jarak tanam 15 x 15 cm atau 20 x 20 cm dan dalam 3-5 cm. Lalu masukkan biji bengkoang ke dalam lubang dan tutup kembali dengan tanah. Jika menginginkan umbi besarnya seragam, sebaiknya per lubang ditanam satu biji. Selain menghemat benih kualitas bengkoang yang dihasilkan akan lebih baik.

 

Penyulaman dan Pemupukan

 

Pada kondisi tanah yang basah biji bengkoang akan berkecambah dan muncul di permukaan tanah pada hari ketujuh sampai kesepuluh setelah tanam. Tapi jika kondisi tanahnya kering maka diperlukan waktu relatif lama untuk proses perkecambahan. Karena itu penanaman bengkoang di kebun sebaiknya setelah hujan turun.

 

Pada umur dua minggu setelah tanam, tanaman sudah tumbuh secara keseluruhan dan tanaman mencapai tinggi 5-10 cm. Saat inilah akan tampak tanaman yang baik maupun yang kurang baik (tidak normal), bahkan tidak tumbuh. Tanaman yang jelek dan tidak tumbuh segera diganti (disulam).

 

Penyulaman tanaman bengkoang tidak boleh melebihi umur 15 hari setelah tanam. Sebab, tanaman akan terlambat pertumbuhannya karena tidak mampu bersaing mendapatkan makanan maupun memperoleh sinar matahari. Akibatnya, tanaman akan tumbuh kerdil dan mati.

 

Sebenarnya tanaman bengkoang tidak begitu membutuhkan pupuk, terutama pupuk nitrogen (urea). Sebab, tanaman ini mampu bersimbiose dengan bakteri penambat nitrogen bebas di udara. Jika tujuan penanaman untuk diperdagangkan (komersial), maka untuk mendapatkan umbi yang besar dan berkualitas pemupukan sangat diperlukan, terutama pupuk P (fospor) dan K (kalium). Unsur P dan K sangat diperlukan untuk merangsang perkembangan umbi maupun meningkatkan kadar gula dalam umbi bengkoang, sehingga rasanya akan lebih manis.

 

Pupuk yang digunakan adalah pupuk tunggal yaitu SP-36 dan KCl. Pemupukan dilakukan saat tanaman berumur 2-3 bulan atau ketika tanamn mulai membentuk umbi. Dosis pupuk SP-36 dan KCl masing-masing 150 kg/ha. Cara pemupukan dengan membenamkan di antara tanaman bengkoang 1,5 gram/lubang. Segera tutup kembali agar tidak menguap. Saat pemupukan usahakan tanah dalam kondisi basah.

 

Penyiangan dan Pemangkasan

 

Penyiangan gulma dilakukan mulai umur 15 hari atau sebelum dilakukan penyulaman. Bisa juga dilakukan secara insidentil. Pembubunan dilakukan setelah pemupukan. Pembubunan dengan menaikkan tanah yang ada pada parit sebelah kiri dan kanan. Selanjutnya ratakan secara hati-hati agar batang tanaman tidak tertutup tanah.

 

Berbeda dengan tanaman buah lainnya, selain memangkas sulur atau cabang yang tumbuh memanjang dan tidak beraturan, tanaman bengkoang juga dipangkas bunganya. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi pertumbuhan generatif. Tapi sebaliknya agar tanaman fokus pada pertumbuhan vegetatif, terutama pertumbuhan umbi agar berkembang optimal.

 

Pemangkasan tanaman bengkoang dimulai sejak tanaman berumur 45 hari. Biasanya sudah banyak cabang atau sulur yang saling melilit dan menutupi. Tunas yang terlalu panjang dan menutupi yang lain dipangkas dan diatur kembali agar tidak terjadi persaingan serta agar mendapatkan sinar matahari secara merata.

 

Selain pemangkasan sulur atau tunas cabang, juga dilakukan pemangkasan bunga. Pemangkasan bunga ketika terlihat bermunculan ke luar tunas bunga. Segera pangkas menggunakan pisau atau gunting sebelum bunga mekar.

 

Tujuan pemangkasan bunga untuk mengurangi penggunaan energi yang sia-sia untuk petumbuhan dan perkembangan bagian tanaman tersebut. Dengan demikian, energi akan menjadi cadangan makanan yang disimpan dalam umbi. Umbi akan menjadi besar dan berkualitas. Sudarmaji (PPL Lombok Timur)/Yul

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162