Loading...

e-paper Tabloid Sinar Tani - Teknologi Sederhana Olahan Cabai

14:15 WIB | Tuesday, 23-May-2017 | Sorotan | Penulis : Pimpinan Redaksi

e-paper Tabloid Sinar Tani  - Teknologi Sederhana Olahan Cabai

 

Cabai menjadi komoditi yang bukan hanya pedas di mulut, tapi juga sering membuat pedas perekonomian negara. Bayangkan saja, karena gejolak harga bumbu masak ini, inflasi pun ikut terkerek. 

 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Januari 2017 dengan angka inflasi mencapai 0,97%, ternyata cabai menyumbang sebesar 0,1% cabai rawit dan 0,08% cabai merah. Naik turun harga cabai memang menjadi persoalan sendiri bagi pemerintah. Di satu sisi ketika produksi ber­kurang harga melonjak, kon­sumen pun berteriak. Nah, un­tuk mengatasi persoalan ini, pemerintah telah mencanangkan Gerakan Tanam Cabai di tingkat rumah tangga.

 

Tapi di sisi lain saat produksi berlebih, harga pun terjun bebas. Kini giliran petani menangis. Daya simpan cabai yang tidak lama (mudah busuk), tentu menjadikan cabai terbuang sia-sia pada saat panen raya. 

Karena itu harus ada jalan keluarnya. Alternatifnya adalah mengembangkan produk olahan berbahan baku cabai. Selain memberikan nilai tambah, produk olahan ini bisa menjadi peluang bisnis untuk usaha rumah tangga. Apalagi minat masyarakat ter­hadap bumbu instan cukup tinggi.

“Cabai segar ini hanya tahan paling lama 7 hari, makanya peng­olahan cabai adalah solusi tepat untuk memanfaatkan kelebihan pasokan pada saat melimpah,” kata Kepala Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian, Prof. Risfaheri, beberapa waktu lalu.

Menurut Risfaheri, dengan mengembangkan pengolahan ca­bai, secara tidak langsung dapat mengatasi fluktuasi harga cabai. Di saat panen raya, produksi yang berlebih dapat diolah menjadi cabai kering, pasta cabai, abon cabai, dan masih banyak lainnya. Lalu pada saat produksi minim, pemenuhan akan cabai dapat dipenuhi oleh cabai olahan. “Kalau industri olahan cabai ini jalan. Tentu tidak ada lagi yang namanya fluktuasi harga cabai segar di pasaran,” ujarnya.

Beberapa peneliti di BB Litbang Pascapanen telah melakukan ber­bagai macam penelitian mengenai cabai. Dari mulai penelitian untuk daya simpan cabai segar agar lebih tahan lama hingga olahan cabai yang mudah dipraktekkan di skala rumah tangga. 

“Kami sudah menghasilkan beberapa teknologi pascapanen pengolahan cabai. Kami juga mem­berikan bimbingan teknis untuk menyalurkan hasil pene­litian kepada masyarakat luas. Ini merupakan salahsatu ben­tuk dukungan kami untuk mewu­judkan pembangunan pertanian,” tutur Risfaheri. 

 

Peluang Usaha Terbuka

Meski mengolah cabai susah-susah gampang, tapi peluang usahanya terbuka lebar. Bukan hanya di BB Litbang Pascapanen yang memberikan bimbingan teknis membuat cabai olahan. Lokasi lain untuk belajar ada di Taman Teknologi Pertanian (TTP) Cigombong, Bogor.

”TTP ini jadi tempat pembe­lajaran petani mulai dari hulu hingga hilir. Kita di sini belajar mengenai beragam teknologi budidaya, pengolahan (pasca pa­nen) hingga pemasarannya. Termasuk pengolahan cabai itu sendiri,” kata pengelola TTP Cigombong, Dede Zaenab. Pela­tihan olahan cabai yang dilakukan di TTP Cigombong disupervisi langsung Balai Pengelola Alih Teknologi Pertanian Bogor (BPATP), Badan Litbang Pertanian.

Dihubungi terpisah Ketua Kelompok Tani Pancawati, kelom­pok pengolah cabai yang pernah berlatih di TTP Cigombong, Jayadi mengakui, dengan pelatihan peng­olahan cabai bisa memberikan nilai tambah dari usaha budidaya cabai yang selama ini dilakukan.

“Sekarang harga cabai memang tengah tinggi dan cukup menggiurkan untuk bisa dijual langsung. Tapi kita juga ambil pelajaran dari yang sudah-sudah kalau harga bisa terjun bebas saat panen raya. Makanya kita lakukan pengolahan cabai agar bisa disimpan lebih lama,” kata Jayadi.

Jayadi menuturkan, meski tidak menggunakan bahan pengawet, produk olahan cabai bisa bertahan hingga 12 bulan. Sementara cabai segar bisa membusuk dalam waktu satu bulan. 

Dia mengakui, peluang usaha olahan sangat menarik untuk digeluti, karena pasarnya masih terbuka lebar. Meski pemain produk saos cabai kini didominasi perusahaan besar, tapi jika mem­buat produk olahan cabai organik kita akan bisa bersaing. “Produk organik jauh lebih sehat dari produk olahan lainnya yang mungkin menggunakan bahan pengawet,” ujarnya.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162