Loading...

Katokkon, Si Raja Pedas Dari Toraja

09:54 WIB | Tuesday, 15-March-2016 | Hortikultura, Komoditi | Penulis : Kontributor

Kekayaan produk hortikultura dari Indonesia sudah tidak perlu diragukan lagi. Salah satu komoditi yang biasa digunakan untuk bumbu masakan adalah cabai. Berbeda dengan daerah lain, masyarakat Tana Toraja terbiasa mengkonsumsi Katokkon, jenis cabai yang dikenal karena kepedasannya.

 

Kabupaten Tana Toraja di Sulawesi Selatan sangat terkenal hingga ke manca negara karena memiliki adat budaya yang unik dan pemandangan alam yang eksotik. Di samping itu, Kabupaten Tana Toraja juga kaya akan kuliner khas yang sanggup memanjakan lidah, salah satunya adalah yang termasuk dalam komoditas sayuran yang dikenal dengan nama cabai Katokkon.

 

Cabai Katokkon memiliki aroma yang harum mewangi serta tingkat kepedasan yang tinggi, sehingga menjadi bahan pangan favorit di Tana Toraja, terutama bagi para penggemar rasa pedas. Rasa pedas luar biasa itu pulalah yang menjadikan harganya cukup tinggi di pasaran.

 

“Cabai jenis ini dikatakan pilihan utama. Cabai lain baru akan dipilih kalau cabai ini sudah tidak tersedia lagi,” ungkap Ahli Pemuliaan Tanaman Cabai dari Institut Pertanian Bogor, M. Syukur

 

Informasi dari Balai Pelatihan Pertanian Makale Selatan, Kabupaten Tana Toraja menyebutkan, cabai Katokkon adalah sejenis cabai atau lombok primadona khas Tana Toraja. Penampilan fisiknya seperti Paprika tetapi dalam bentuk mini, gemuk bulat pendek.

 

Ukuran normalnya sekitar 3-4 cm dengan penampang seukuran 2 hingga 3,5 cm, berwarna hijau keunguan saat masih muda dan merah menyegarkan saat buahnya matang untuk diolah menjadi bahan kuliner penguat rasa makanan khas Tana Toraja.

 

Selain mengandung vitamin A dan C, serta antioksidan yang melindungi tubuh dari radikal bebas penyebab kanker, khasiat cabai Katokkon ternyata sangat banyak. Manfaat atau khasiat yang didapat saat mengkonsumsi lada Kotokkon ini yakni menambah nafsu makan, obat awet muda karena bisa memperlambat penuaan, anti stres, membantu mengatasi masalah persendian, menurunkan kolesterol, melancarkan aliran darah, mencegah stroke, meredakan batuk berdahak, melegakan hidung tersumbat, meredakan migran dan masih banyak lagi.

 

Tidak ada yang tahu persis kapan cabai ini mulai dikembangkan di Tana Toraja, ada kabar yang mengatakan bahwa cabai Katokkon mulai dikenal sejak tentara Jepang menginjakkan kakinya di Tana Toraja. Namun yang pasti cabai tersebut sudah digolongkan ke dalam varietas cabai spesifik lokasi.

 

Potensi Agribisnis

 

Cabai Katokkon seperti pada umumnya cabai juga mengandung zat minyak atsiri Capsaicin, yaitu zat yang membuat rasanya menjadi pedas dan terasa panas di lidah. “Konon rasa pedas lada Katokkon sebanding dengan 4 kali rasa pedas dari cabai rawit, bahkan ada yang mengatakan sebanding dengan 10 kali rasa pedas dari cabai rawit,” tutur M. Syukur.

 

Keunggulan lain dari cabai ini karena cara menanamnya yang masih tradisional. “Kepedasan cabai bisa optimal bila ditanam di ketinggian daerah pegunungan atau sekitar 200 di atas permukaan laut, mendapatkan curah hujan yang cukup hingga terkena cahaya matahari yang cukup atau sekitar 11-12 jam per hari,” jelasnya.

 

Cabai Katokkon sangat menjanjikan untuk dikembangkan sebagai komoditi agribisnis, karena harganya yang relatif stabil, tidak seperti cabai jenis lainnya. Dengan aroma khasnya dan rasa pedasnya yang luar biasa, menjadikan cabai Katokkon selalu dicari orang untuk dikonsumsi, sehingga harganya pun selalu di atas harga cabai lainnya.

 

Salah satu pembudidaya cabai Katokkon di Tana Toraja, Amir Ria menuturkan pada saat ini harga cabai Katokkon di tingkat petani mencapai Rp. 50 ribu/kg. Pada keadaan tertentu, terlebih saat musim penghujan, harganya bisa menembus Rp 100 ribu per kg di pasaran.

 

Katokkon dapat tumbuh baik pada ketinggian 1.000–1.500 meter dpl. Pada umur 3 bulan setelah tanam, lada Katokkon sudah bisa menghasilkan buah. Pada umumnya dalam 1 kali musim tanam lada Katokkon dapat dipanen sampai empat kali dengan produksi setiap tanaman dapat mencapai 1 kg.

 

Cabai Katokkon juga kini sudah diolah lebih lanjut menjadi sambal siap saji dan menjadi oleh-oleh khas Tana Toraja. Ibu Merda Mangajun menjadi salah satu pengolah sambal siap saji tersebut dan diberi label “Katokkon”. Berbagai rasa juga dikeluarkan oleh Merda, mulai dari Katokkon rasa goreng, dendeng kerbau, sambal cair, saus sambal yang dikemas dalam kemasan berbagai ukuran disesuaikan dengan isi kantong dan kebutuhan konsumen. Cla/Ira

 

Cara Mudah Budidaya Cabai Katokkon

 

Tahap pembibitan cabai Katokkon, menurut sang pembudidaya Amir Ria, dimulai dari memilih benih, mengeringkan buah, menyimpan buah, membuat persemaian, menabur benih memelihara tumbuhnya benih sampai dengan saat bibit akan dipindahkan ke tempat penanaman. “Cabai Katokkon diperbanyak dengan bijinya. Biji dipilih dari buah yang masak pohon, tidak terserang penyakit, subur, kokoh dan berbuah banyak,” tuturnya.

 

Buah cabai yang telah dipilih kemudian dikeringkan dengan dua cara, yakni buah cabai dilepas, diambil bijinya kemudian diangin-anginkan atau buah cabai dikeringkan, setelah kering, biji dipisahkan. Persemaian dilakukan dengan cara membuat bedeng persemaian, menyemai benih dan merawat benih. Akan lebih baik bila benih yang sudah tumbuh setelah 15 hari disapih ke dalam polybag plastik yang berdiameter 5 cm, umur pindah tanaman yang baik adalah 30-45 hari setelah semai.

 

Sambil menunggu saatnya bibit dipindahkan untuk ditanam maka dilakukan pengolahan tanah pada lahan yang akan ditanami dengan tujuan untuk menggemburkan tanah agar perakaran tanaman lebih baik. Setelah gembur, dibuat bedengan dengan lebar 1-1,5 m dan panjangnya disesuaikan dengan kondisi lahan. Pada musim hujan dianjurkan membuat parit dengan kedalaman 25 cm.

 

Serangan Hama

 

Penanaman didahului penyiapan lubang dengan jarak 50 x 80 cm, kemudian lubang diisi pupuk kandang yang sudah jadi sebanyak 1 - 2 genggam. Penyulaman cabai dapat dilakukan paling lama dua minggu setelah tanam.

 

Penyiangan dilakukan sesuai keadaan pertumbuhan gulma, tapi bila Anda akan menghemat tenaga, penyiangan dapat juga menggunakan mulsa plastik hitam perak, penyiangan dimaksudkan pula untuk menggemburkan tanah.

 

Pemupukan yang baik pada cabai ini adalah dengan menggunakan pupuk alam. Batasi penggunaan pupuk buatan terutama urea karena tanaman cabai akan peka terserang penyakit layu. Disarankan menggunakan pupuk buatan TSP dan KCl dengan dosis masing-masing 2,5 gram dan 5 gram per pohon.

 

Hama yang sering menyerang cabai ini adalah kutu daun dan lalat buah, sedangkan penyakit yang menyerang biasanya penyakit busuk buah, busuk daun dan busuk akar. Penyakit tersebut dapat ditanggulangi dengan fungisida seperti Kocide 77.

 

Panen merupakan pekerjaan akhir yang dinanti-nantikan oleh pembudidaya sebagai hasil jerih payahnya. Panen pertama cabai Katokkon dilakukan setelah tanaman berumur 3 - 4 bulan setelah pindah tanam. Setelah panen pertama, maka panen berikutnya dapat dilakukan setiap tiga hari sekali dan pemetikannya dapat berlangsung 8-10 bulan. Berdasarkan pengalaman, jumlah buah cabai Katokkon dapat mencapai 100-150 buah/pohon selama masa hidupnya, setara dengan 0,8 - 1,2 kg cabai. Gsh/Ira

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162