Loading...

Manisnya Budidaya Pepaya di Lahan Gambut

11:53 WIB | Monday, 27-January-2014 | Hortikultura, Komoditi | Penulis : Kontributor

Gambut memang lahan marjinal. Tapi siapa bilang di lahan tersebut tak bisa dioptimalkan untuk usaha pertanian. Contohnya, Slamet Riyadi yang mampu mengembangkan budidaya pepaya di lahan gambut. Hasilnya pun semanis rasa pepaya.

 

Lokasi kebun Slamet Riyadi terletak di lahan gambut, masuk di wilayah administrasi Kelurahan Kereng Bangkirai, Kecamatan Sabangau, Kota Palangka Raya. Kebun yang berjarak sekitar satu kilometer dari Sungai Sebangau tersebut dia beli tahun 1996 seluas tiga hektar seharga Rp 16 juta.

 

Pada tahun 1980-1990, lokasi ini merupakan hutan belantara yang banyak ditumbuhi pohon kayu ramin, kapur naga, maupun meranti. Tinggi pohon-pohon kayu tersebut mencapai 25 meter dengan diameter lebih dari 30 cm. Kondisi tebal gambut rata-rata mencapai satu meter. Di beberapa tempat ada yang mencapai dua meter. Bahkan kondisi air di hutan rawa gambut tersebut bisa setinggi ukuran pinggang orang dewasa.

 

Tapi sejak tahun 1990-1995 berdiri sirkel yang dikelola H. Junai yang mampu mengolah kayu dengan diameter 35-40 cm. Pada masa ini juga banyak masyarakat mencari gemor, yaitu kulit kayu sebagai bahan baku obat nyamuk bakar. Harga gemor saat itu mencapai Rp 28 ribu per kuintal. Bandingkan dengan harga gemor sekarang yang sudah mencapai 950 ribu rupiah per kuintal.

 

Kondisi lahan gambut makin parah. Laju kerusakan ekosistem berjalan cepat sejak terjadi kebakaran. Peristiwa kebakaran besar tahun 1993, 1995 dan 2007 membuat ekosistem gambut makin rusak. Kebakaran banyak menghanguskan kayu komersial, sehingga sirkel tutup dan gemor pun musnah. Setelah itu kondisi lahan banyak didominasi pohon tumih.

 

Akibat kebakaran tersebut menyebabkan ekosistem hutan praktis musnah. Kondisi ketebalan gambutpun menipis kurang dari 30 cm. Di beberapa tempat masih tersisa hanya satu meteran.

 

 

 

Memulai Usaha

 

Kerusakan gambut membuat Slamet harus berpikir keras agar tetap eksis pengolahan lahan tersebut. Tahun 2010, dia memilih dan mencetak lahan gambut yang memiliki ketebalan kurang lebih satu meter menjadi lahan siap tanam. Dengan upah borongan per 20x50 m sebesar Rp 5 juta, sehingga pengeluarannya mencapai Rp 50 juta/ha.

 

Dilanjutkan membuat saluran drainase untuk menurunkan muka air tanah di lahan dengan menggunakan excavator yang menghabiskan dana Rp 10 juta. Sejak tahun 2011 kondisi lahannya yang dulu merupakan hutan rawa gambut telah menjadi lahan pertanian intensif.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Julianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162