Loading...

Memburu Merah Delima di Kebun Cikumpay Purwakarta

13:05 WIB | Wednesday, 29-January-2014 | Klinik Teknologi, Teknologi | Penulis : Kontributor

Hampir sekitar satu jam, berada di depan laptop! Namun lagi-lagi ‘Sinta belum menemukan’ kata atau kalimat yang tepat untuk mengawali laporan jelajah dari perkebunan Cikumpay Purwakarta milik PTPN VIII kali ini. Mungkin lagi ‘gak’ enjoy sehingga daya inspirasi berkurang. Tapi tunggu dulu, memori ‘Sinta’ kini sudah mulai bekerja, karena ada satu kata yang paling mengusik ketika hendak menurunkan naskah ini. Kata itu adalah ‘Afdeling’ yang berasal dari bahasa Belanda yang berarti seksi, bagian atau divisi.

 

Kata afdeling ini banyak kita temukan di hamparan kebun yang membentang dari Purwakarta hingga ke Kabupaten Subang, Jawa Barat itu. Keheranan juga bertambah setelah kita mendengar sebutan pengawas kebun dengan kata ‘sinder’ kebun.

 

Tapi rekan-rekan jelajah tak perlu risau. Inilah aroma kolonial Belanda yang masih terasa di setiap perkebunan milik PTPN, kita tidak tahu alasannya mengapa kata-kata ini masih dipakai. Apa mungkin, tidak ada kata bahasa Indonesia yang tepat untuk menggantikan atau memang dipertahankan sebagai bagian dari sejarah?

 

Jejak langkah kolonial ini semakin terasa jika mata kita tertuju dengan bangunan-bangunan lawas, mulai dari perkantoran hingga pabrik-pabrik pengolah karet yang telah berusia puluhan tahun. Maklum, kebun ini sudah ada sejak tahun 1905 atau empat puluh tahun sebelum kemerdekaan Indonesia. Jika hendak ke sana, diperlukan waktu sekitar 2-3 jam perjalanan dari Jakarta. Caranya masuk tol Cikampek, kemudian arahkan kendaraan masuk ke jalur menuju Bandung dan keluar di pintu tol Subang, setelah melintas lampu merah Subang terus saja lurus hingga sampai ke kebun Cikumpay.

 

Perjalanan ‘Sinta’ menuju kebun ini gampang-gampang susah, hujan deras selalu setia menemani. Ditambah lagi kesulitan untuk menentukan arah menuju kebun, maklum baru pertama kali meninjau kebun tersebut. Untungnya, perjalanan ini dipandu oleh Pak Sanuki Pratikno, MM, Kepala Subbidang PHP, Pusat Penelitian Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, sehingga penjelajahan ini terasa lebih gampang dan menggembirakan.

 

 

 

Bertemu Sinder

 

Hujan yang menerpa di sepanjang perjalanan ini membuat kondisi tubuh semakin dingin. Jalan yang berlubang atau terkadang harus melintas genangan-genangan air, tak membuat surut tim penjelajah memburu merah delima. Alhamdulillah, mobil pak sanuki pelan dan akan berbelok ke arah kanan. Sinta saat itu langsung merasa “wah kita sudah sampai di lokasi”. Dan benar saja, sekitar 1 km dari jalan utama Purwakarta tepatnya di RT 009 RW 004 Desa Kertamukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Purwakarta, terbentang hamparan kebun karet Cikumpay tepatnya di Afdeling Cipinang.

 

Tampak di kejauhan sudah menunggu seorang sinder kebun, namanya Ikhsan yang ditemani mandor dan rekan sejawatnya, serta tak lupa hadir juga Ibu Diah Sunarwati, peneliti Badan Litbang Pertanian yang menjadi pendamping perkebunan ini.

 

Bergegas Ikhsan menunjukkan “ini pak, merah delimanya”, merah delima ini teruntai rapi membentuk barisan memanjang, menjadi pembatas di antara tanaman karet. Tubuh yang tidak terlalu tinggi, dengan bukaan kanopi yang rimbun menjuntai buah merah delima ini dengan rapatnya. Inilah gambaran kegembiraan tim jelajah setelah bertemu dengan pepaya merah delima yang ditanam di Kebun Cikumpay milik PTPN VIII.

 

Ikhsan dengan bersemangat menjelaskan, bahwa menanam tanaman buah khususnya papaya merah delima adalah pengalaman pertama. Kendati ini, ‘The First Experience’, “ kami yakin pepaya ini akan berhasil, apalagi kami sudah merasakan panen perdana dengan hasil yang cukup menggembirakan. Di kebun ini ditanam 4.800 pohon pepaya dan hampir separuhnya sudah menghasilkan,” ujarnya menambahkan.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Julianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162