Loading...

Menuai Wangi dari Melati

13:09 WIB | Tuesday, 08-April-2014 | Komoditi, Hortikultura | Penulis : Clara Agustin

Siapa yang tidak kenal bunga melati, bunga berwarna putih dengan wangi semerbak. Sebagai tanaman daerah tropika, Indonesia menjadi penghasil melati di dunia. Bahkan peluang pasar si jasmine ini sangat besar.

 

Di setiap daerah di Indonesia, penamaan bunga ini berbeda-beda.  Di Bali dengan sebutan menuh, meulu cut atau meulu cina (Aceh), menyuru (Banda), melur atau melor (Gayo dan Batak Karo), manduru (Manado), mundu (Bima dan Sumbawa), manyora (Timor), melati salam (UMI), malate (Madura), menur, mlati, dan melati (Jawa dan Sunda), serta beruq-beruq (Mandar).

 

Di Inggris, bunga itu dikenal sebagai jasmine, yang sesuai dengan nama genus bunga ini, yakni jasminum. Bunga melati adalah tanaman bunga hias berupa perdu. Bunga ini mempunyai batang tegak merayap yang hidup menahun dan memiliki daun berwarna hijau dan berbentuk membulat.

 

Bunganya berukuran kecil, umumnya berwarna putih dan berbau harum dengan mahkota bunga selapis atau menumpuk. Meski bentuknya sederhana, melati mempunyai aroma sangat wangi. Bunga yang berasal dari Asia Selatan dan tersebar hampir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia ini kadang dijadikan sebagai lambang kesucian.

 

Di Indonesia salah satu sentra pengembangan melati berada di sepanjang Pantai Utara Jawa (Pantura Jawa). Salah satu sentra melati berada di Kota Bahari, Kabupaten Tegal. Dengan luas panen mencapai 371,3 ha, produksinya mampu menembus 9.456 ton (2013), menjadikan Tegal sebagai sentra produksi melati sejak 10 tahun terakhir.

 

Seperti yang diceritakan petani melati asal Desa Maribaya, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, Wiryono yang mampu panen hingga 300 kg per ha per hari. Tentu saja panen yang begitu melimpah ini didapat saat musim kemarau. "Kalau musim hujan produksi turun karena banyak yang rontok. Biasanya hanya menghasilkan 1 kg per ha per hari apabila hujan terus-menerus," katanya.

 

Meski produksi selalu naik turun, tidak membuat Wiryono patah arang dan tetap setia menjadi petani melati. Dengan kegigihannya, salah satu melati miliknya dilirik perusahaan teh lokal. Tidak hanya sampai di situ, ternyata perusahaan eksportir, PT. Alamanda juga berminat mengirim ke luar negeri.

 

Dalam sehari Wiryono, menyuplai 10 kg untuk eksportir dan 30 kg untuk pabrik teh lokal. Bahkan pernah sang eksportir meminta hingga dua ton per hari. “Tapi juga tergantung permintaan negara tujuannya," kata Wiryono yang memiliki lahan melati seluas 3,5 ha.

 

Harganya pun bervariasi. Di tingkat petani harga kuncup melati Rp 16-17 ribu per kg, pabrik Rp 20-22 ribu per kg, dan eksportir Rp 27-29 ribu per kg. "Harga di tingkat eksportir kita pasangkan tertinggi karena permintaannya adalah kuncup melati 'grade A'. Yang keras, putih, mulus dan ukurannya seragam,” ujarnya.

 

Wiryono yang juga menjabat sebagai Sekretaris Sub Kelompok Tani Melati Ngudi Hasil menjelaskan, untuk ekspor, perusahaan meminta melati yang masih kuncup dan wanginya belum tercium.  Kuncup melati yang diminta ekportir ada dua jenis, kuncup gundul dan non-gundul. Kalau kuncup gundul, kelopaknya dibuang, sedangkan yang non-gundul kelopaknya masih menempel.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162