Loading...

Teknologi Budidaya Singkong

14:38 WIB | Thursday, 07-August-2014 | Pangan, Komoditi | Penulis : Kontributor

Tanaman ubikayu atau singkong  sebagian besar dikembangkan secara vegetatif yakni dengan setek. Jenis bahan tanaman (varietas/klon) singkong yang banyak ditanam di Lampung antara lain adalah varietas UJ-3 (Thailand), varietas UJ-5 (Cassesart), dan klon lokal (Barokah, Manado, Klenteng).

 

Varietas UJ-3 banyak ditanam petani karena berumur pendek. Namun  kadar pati varietas ini  lebih rendah sehingga menyebabkan tingginya rafaksi (potongan timbangan) saat penjualan hasil di pabrik. Hasil kajian BPTP Lampung menunjukkan bahwa  varietas UJ-5 mampu berproduksi tinggi dan memiliki kadar pati yang tinggi pula. Beberapa varietas atau klon singkong yang banyak ditanam antara lain seperti tertera pada tabel berikut :

 

 

Varietas/Klon

 

 

Umur (bulan)

 

 

Kadar Pati (%)

 

 

Produksi (ton/ha)

 

 

Sistem Tanam

 

 

UJ-3 (Thailand)

 

 

8-10

 

 

25-30

 

 

35-40

 

 

Rapat (70X80 cm)

 

 

UJ-5 (Cassesart)

 

 

10-12

 

 

45-60

 

 

45-60

 

 

Double row

 

 

Malang-6

 

 

9-10

 

 

35-32

 

 

35-38

 

 

Rapat (70X80 cm)

 

 

Barokah

 

 

9-10

 

 

25-30

 

 

35-40

 

 

Double row

 

 

Cara Tanam

 

Cara tanam yang banyak diaplikasikan petani adalah sistem tanam rapat dengan jarak tanam 70 x 80 cm. Cara tanam ini memiliki banyak kelemahan antara lain penggunaan bahan tanaman dalam jumlah besar (18.000 tanaman/ha) dan produktivitas rendah (18-22 ton/ha). Hasil kajian BPTP Lampung menunjukkan bahwa penggunaan sistem tanam double row dengan variates UJ-5 mampu menghasilkan  50-60 ton/ha.

 

 

 

Adapun cara penanaman singkong  sistem double row adalah sebagai berikut :

 

Penggunaan Bibit Unggul

 

Setek untuk bibit tanaman adalah varietas UJ-5 yang diambil dari tanaman yang berumur lebih dari 8 bulan. Jumlah bibit per hektar dengan sistem tanam double row adalah 11.700 tanaman. Panjang setek yang digunakan adalah 20 cm.

 

Pengolahan Tanah

 

Tanah diolah sedalam 25 cm dapat dilakukan dengan mencangkul, membajak dengan ternak dan traktor. Dibuat guludan atau bedengan dengan jarak ganda (double row) yaitu 80 cm dan 160 cm.

 

Sistem Tanam

 

Sistem atau cara tanam double row adalah membuat baris ganda (double row) yakni jarak antar barisan 160 cm dan 80 cm, sedangkan jarak di dalam barisan sama yakni 80 cm. Sehingga jarak tanam  baris pertama 160 cm x 80 cm dan baris kedua 80 cm x 80 cm. Penjarangan barisan ini ditujukan agar tanaman lebih banyak mendapatkan sinar matahari untuk proses fotosintesa, sehingga pembentukan zat pati di umbi lebih banyak dan ukuran umbi besar-besar. Selain itu, di antara barisan berukuran 160 cm dapat ditanami jagung dan kacang-kacangan untuk meningkatkan pendapatan petani. Keuntungan lain dari sistem tanam  double row adalah jumlah bibit yang digunakan lebih sedikit yakni 11.700 tanaman dibandingkan dengan sistem tanam  biasa dengan jumlah bibit 17.800 tanaman.

 

Pemupukan

 

Dosis pemupukan per ha yang dianjurkan adalah : 200 kg urea +150 kg SP 36 + 100 kg KCl dan 5 ton pupuk kandang. Pada musim tanam berikutnya dosis pupuk kandang dikurangi menjadi 3 ton/ha. Pemupukan urea dilakukan 2 kali yakni pada umur 1 bulan dan 3 bulan, sedangkan SP36 dan KCl diberikan 1 kali pada umur 1 bulan setelah tanam. Pemberian pupuk kandang dilakukan pada sekitar perakaran pada umur 2 minggu setelah tanam.

 

Pemeliharaan

 

Penyiangan pertama dilakukan pada umur 3 minggu sampai 1 bulan setelah tanam. Penyiangan ini dilakukan secara mekanis  menggunakan koret. Sedangkan penyiangan kedua dilakukan pada umur 3 bulan setelah tanam dengan menggunakan herbisida. Penjarangan cabang dilakukan pada umur 1 bulan, dengan jumlah cabang yang dipelihara adalah 2 cabang per tanaman.  Tia

 

(Sumber : lampung.litbang.deptan.go.id)

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162