Loading...

Tips Budidaya Kangkung Darat Cabutan

11:39 WIB | Monday, 25-April-2016 | Tips & Santai, Non Komoditi | Penulis : Kontributor

Pertanyaan:

 

Redaksi Sinar Tani yth. Maaf sebelumnya, saya mau meminta informasi cara budidaya kangkung darat yang baik. Saya punya lahan tidak luas, tapi untuk usaha sayuran sepertinya lumayan untuk menambah penghasilan. Salah satu alternatifnya saya pikir adalah kangkung. Terima kasih atas penjelasannya.

 

Sobirin, petani Bantul, Yogyakarta

 

Jawaban:

 

Terima kasih atas pertanyaannya. Perlu diketahui kangkung darat (Ipomea Sp) merupakan komoditas sayuran dan termasuk ke dalam family Convolvulaceae. Daun kangkung berbentuk memanjang berwarna hijau keputihan, merupakan sumber  pro vitamin A.

 

Berdasarkan tempat tumbuhnya kangkung dibedakan menjadi dua macam. Pertama, kangkung air, yaitu kangkung yang hidup di tempat yang berair. Kedua, kangkung darat, yaitu kangkung yang hidup di tempat kering.  Kangkung darat ini merupakan rumpun tanaman perdu yang dapat tumbuh dengan cepat jika mendapat perlakuan pemupukan dan pemberian air yang cukup.  

 

Umumnya kangkung digunakan sebagai olahan sayur baik ditumis maupun dipelecing. Selain itu ada juga yang dijadikan pakan ternak, yang mempunyai nilai gizi tinggi. Bahkan di Desa Riang Gede, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan petani melakukan budidaya tanaman kangkung darat yang panennya dicabut kemudian dibawa ke pasar atau hotel.  Artinya sudah tentu kualitas komoditi ini harus bagus dan sesuai standar hotel. 

 

Prospek dari kangkung darat panen cabut ini menurut petani sangat bagus. Pasalnya, dapat menambah pendapatan dari petani itu sendiri. Satu petak lahan yang luasnya 1 are, petani dapat memanen kangkung sampai kurang lebih 300 ikat.  Kalau saja harga kangkung satu ikat Rp 1.000, maka luas lahan satu are akan menghasilkan Rp 300 ribu dalam jangka waktu 21-25 hari.  

 

Berarti satu kali periode padi (3 bulan), petani dapat menanam tiga kali tanaman kangkung darat cabutan. Sudah tentu akan dapat menambah pendapatan sampai tiga kali lipat.

 

Cara Budidaya

 

Bagaimana cara budidaya tanaman kangkung darat ini? Sangat sederhana. Tanah diolah dengan dibajak atau dengan menggunakan traktor, digemburkan dan diratakan  sedalam 20-30 cm. Setelah rata dan bersih dari rerumputan kemudian dibuat bedengan dengan ukuran 1 area (2 x 50 m). Ratakan kembali dengan arah dari timur ke barat agar mendapat cahaya penuh. Lahan yang asam (pH) rendah lakukan pengapuran dengan kapur kalsit atau dolomite.

 

Pemupukan dasar dilakukan dengan menyebarkan pupuk organik, bisa dengan kotoran ayam, kurang lebih 20.000 kg/ha  atau pupuk organik hasil fermentasi (kotoran ayam) 4 kg/m2.  Pupuk organik diberikan agar struktur dan  tekstur, serta mikrobia tanah menjadi lebih baik, sehingga ketersediaan hara dapat terjamin.  

 

Pupuk buatan diberikan dengan mengaplikasikan pupuk urea ke dalam bedengan dengan dosis 150 kg/ha  (15 gr/m2) 10 hari setelah tanam. Bedengan yang sudah siap ditanami semprot dulu dengan menggunakan herbisida agar rumput liar nantinya tidak tumbuh, yang dapat mengganggu pertumbuhan kangkung darat.

 

Penanaman dilakukan dengan cara menebar benih ke dalam bedengan dengan merata. Agar pertumbuhannya menjadi bagus dan rata bisa membuat lubang tanam 20 x 20 cm dengan sistem barisan, lubang diisi biji kangkung 2-5 biji.  Benih akan kelihatan berkecambah dalam selang waktu tiga hari bila kelembaban tanahnya bagus (dalam keadaan field capacity).  Kecambah dibiarkan tumbuh sampai mencapai umur 21 hari.

 

Pemeliharaan dilakukan hanya dengan memelihara keadaan airnya tetap dalam keadaan field capacity. Jika tidak ada hujan harus dilakukan penyiraman.  Pengamatan hama dilakukan setiap hari apabila ada hama yang membahayakan.  Biasanya hama yang biasanya menyerang tanaman  kangkung darat adalah ulat grayak (Spodoptera litura F), kutu daun (Myzus persiceae Sulz) dan Aphis gossypii

 

Sedangkan penyakit antara lain penyakit karat putih yang disebabkan Albugo ipomoea reptans.  Untuk pengendalian sebaiknya guna jenis pestisida yang aman, mudah terurai seperti pestisida biologi, pestisida nabati atau pestisida piretroid sintetik. Kalau tidak ada hama penyakit yang menyerang/sampai mengkhawatirkan biarkan saja tanpa disemprot menggunakan pestisida.

 

Penen dilakukan dengan cara dicabut. Beda dengan cara konvensional dengan cara disabit atau dipotong. Ada beberapa kelebihan panen cabut yaitu, tanaman kelihatan lebih  segar. I Wayan Artanaya (PP BP4K Tabanan)

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162