Loading...

Kepala BBPOPT, Jatisari Karawang, Ruswandi: Lakukan Tindakan Pre-emptif

09:41 WIB | Tuesday, 08-August-2017 | Liputan Khusus | Penulis : Indarto

Hama wereng batang cokelat di beberapa daerah ternyata sudah endemik, sehingga tidak mudah bagi petani untuk menghindari tanaman padi dari serangan hama tersebut.  Ada beberapa saran Kepala Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT), Jatisari Karawang, Ruswandi untuk membantu petani.

 

Ruswadi mengatakan, petani atau kelompok tani bisa melakukan pencegahan sejak dini dengan tindakan pre-emptif. Di antaranya, menanam tanaman yang bisa menjadi tempat hidup musuh alami dengan tanaman refugia seperti bunga matahari.

 

“Refugia ini bisa menjadi tempat hidup musuh alami wereng cokelat. Dengan menanam refugia, secara alami hama wereng cokelat bisa dikendalikan melalui musuh alaminya,” ungkap Ruswandi. Bisa juga dengan tanaman kedelai dan tanaman lainnya yang memiliki bunga di pematang sawah dan pinggir jalan areal sawah.

 

“Karena hawa wereng ini bisa terjadi di mana saja, saya lebih mengutamakan kepada petani untuk melakukan tindakan pre-emptif. Tindakan ini akan lebih efektif apabila dilakukan semua petani sejak dini,” tambahnya Ruswandi seraya meningatkan, kunci penanggulangan serangan hama wereng cokelat yang paling penting bagi petani adalah dengan budidaya tanaman sehat.

 

Caranya sebagai berikut:

 

1. Saat persiapan tanam, petani harus memilih benih padi yang berkualitas atau tahan serangan wereng cokelat, seperti Inpari 31 dan Inpari 33. Padi jenis ini umurnya juga pendek (110 hari panen).

 

2. Mengolah lahan yang baik. Khususnya daerah endemik wereng cokelat harus dilakukan olah lahan secara sempurna. Lahan sawah sebelum ditanami harus dicingkal (dibalik) kemudian direndam  air selama 15 hari.

 

3. Pembuatan semaian padi dilakukan setelah hari ke 15. Varietas padi harus dipilih yang tahan wereng cokelat.

 

4. Lakukan seleksi benih. Caranya, benih padi direndam air garam (dosis 2  sendok/liter air).  Benih padi  yang mengambang dibuang. Sedangkan yang tenggelam dicuci bersih dan direndam dengan agen hayati (paimi bacilus polirika) selama 15 menit. Selanjutnya, benih padi siap disemai.

 

5. Untuk daerah endemi wereng cokelat,  kawasan pesemaiannya bisa digunakan karbofuran (semacam pestisida) dengan perbandingan 2-4 kg untuk luas lahan 1 hektar (ha). Pestisida tersebut bisa ditaburkan di pesemaian.

 

6. Pada 10 hari setelah benih padi di semai, petani bisa mengaplikasi (menyemprot) dengan agen hayati, bacilus polinican sebanyak 5 cc/liter air di pesemaian.

 

7. Kalau ada tanaman padi yang terkena virus kerdil rumput, maka tanaman tersebut bisa dicabut. Biasanya, padi yang terkena virus kerdil rumput itu bisa terlihat sejak tanaman berusia dua minggu. Setelah dicabut, lalu musnahkan dengan memasukkan ke air. Tanaman yang dicabut bisa diganti dengan tanaman lainnya.

 

8. Petani bisa melakukan sistem tanam serempak dengan pemupukan yang seimbang. Sistem tanam yang dilakukan sebaiknya sistem jajar legowo.

 

9. Setelah dilakukan penanaman, petani atau kelompok tani dibantu PPL, PHP, dan KCD melakukan monitoring populasi/serangan OPT yang mungkin terjadi. Setelah itu, dilakukan tindakan pengendalian di lapangan.

 

10. Jika sudah terlihat ada gejala serangan OPT (seperti wereng cokelat) pada tanaman padi di sawah, PPL, PHP, dan KCD (mantri tani) akan mengeluarkan rekomendasi dengan tindakan responsif. Idt/Yul

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Pimpinan Redaksi

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162