Loading...

Penyiapan Benih Kentang Bermutu

13:40 WIB | Wednesday, 26-April-2017 | Mimbar Penyuluhan | Penulis : Kontributor

(Oleh: Mariati Tamba/Penyuluh Pertanian Pusat)

 

Penyiapan benih kentang bermutu merupakan awal kegiatan budidaya tanaman, sebagai salah satu faktor yang dapat mempengaruhi produksi. Oleh sebab itu, jaminan mutu benih sangat diperlukan oleh petani pengguna. Benih kentang bermutu adalah benih yang mempunyai kebenaran varietas, mutu genetik, mutu fisiologis, mutu fisik serta status kesehatan yang sesuai dengan standar mutu persyaratan teknis minimal.

 

Untuk mengantisipasi permintaan produk kentang sesuai dengan preferensi pasar dalam negeri dan ekspor dengan kualitas yang memadai, perlu dilakukan produksi melalui budidaya yang baik dan benar berdasarkan Standar Operasional Prosedur (SOP). Benih kentang bermutu merupakan benih yang varietasnya sudah terdaftar untuk peredaran dan diperbanyak melalui sistem sertifikasi benih.

 

 Salah satu unsur SOP yang perlu dilakukan adalah penyiapan benih kentang bermutu dari varietas unggul untuk menjamin bahwa benih yang ditanam berasal dari varietas unggul, memiliki tingkat keseragaman yang tinggi, berproduktivitas tinggi dan sehat. Standar penyiapan benih adalah menggunakan Benih Sebar (G4) bermutu, bersertifikat dan berlabel biru dengan ukuran “Medium” (30-45 gr); yang sudah tumbuh tunas (1-2 cm) atau siap tanam dari penangkar yang diawasi dan dibina oleh Pemerintah. Mekanisme yang efektif untuk memperoleh benih bermutu adalah produsen dalam memproduksi benih harus melalui sertifikasi benih. Sertifikasi benih kentang dilaksanakan untuk menjamin mutu benih yang beredar sampai di tingkat konsumen.

 

Sesuai dengan amanah UU No. 13 Tahun 2010 tentang Hortikultura, dinyatakan bahwa benih yang diedarkan wajib didaftar dan memenuhi standar mutu. Sebagai turunan UU tersebut, telah diterbitkan Permentan No. 48/Permentan/SR.120/8/2012 tentang Produksi, Sertifikasi, dan Pengawasan Peredaran Benih Hortikultura. Sertifikasi dilakukan melalui pengawasan pertanaman dan pasca panen; sistem manajemen mutu; atau terhadap produk benih.

 

Tatacara Sertifikasi Benih

 

1.  Permohonan diajukan oleh produsen benih kepada instansi yang menyelenggarakan pengawasan dan sertifikasi benih, paling lama 7 hari sebelum tanam. Satu permohonan berlaku untuk satu unit sertifikasi;

 

2.  Lokasi produksi berada di luar wilayah pemberi tanda daftar/izin usaha produksi.

 

3.  Produsen melaporkan secara tertulis kegiatan produksi benih kepada instansi yang menyelenggarakan pengawasan dan sertifikasi benih.

 

4.  Pemeriksaan lapangan, meliputi:

 

a.  Klarifikasi dokumen permohonan sertifikasi, dilakukan sebelum kegiatan di lapangan oleh Pengawas Benih Tanaman (PBT);

 

b.  Pemeriksaan pendahuluan dilakukan (sebelum tanam) terhadap dokumen meliputi kebenaran lokasi, benih sumber, sejarah lapangan, isolasi, dan rencana tanam;

 

c. Pemeriksaan pertanaman dilakukan pada fase pertumbuhan (umur 30-40 hari setelah tanam). Parameter yang diamati yaitu warna dan posisi daun, dan kesehatan tanaman.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162