Loading...

Pompanisasi Sawah Pasang Surut Naikan IP Padi

17:20 WIB | Wednesday, 20-December-2017 | Sarana & Prasarana, Non Komoditi | Penulis : Ika Rahayu

 

 

Pemerintah mendukung penuh berjalannya kegiatan pompanisasi di sawah pasang surut karena bisa menjadi solusi bagi petani untuk meningkatkan indeks pertanaman (IP). Dengan model pompanisasi yang dilaksanakan di Banyuasin, Sumatera Selatan diharapkan bisa direplikasi di wilayah pasang surut lain.

 

“Model pompanisasi ini manfaatnya sangat besar,”  tegas Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementerian Pertanian, Pending Dadih Permana saat peresmian pompa irigasi, di Kabupaten  Banyuasin, Rabu (20/12).

 

Kegiatan pompanisasi lahan pasang surut dilaksanakan di Desa Talang Jaya dan Dera Air Saleh Kab. Banyuasin. Total dua unit pompa berkapasitas besar telah disalurkan atas sponsor pihak swasta Pilar Agri, Topi Koki dan Kubota. Satu unit pompa bisa mengairi sawah hingga luasan 100 ha.

 

Dadiha berharap, dengan adanya pompanisasi, petani anggota kelompok tani di Kecamatan Air Saleh bisa bertanam padi dua kali dalam setahun. “Kami harap petani dapat merawat pompa bantuan ini,” pinta Dirjen PSP.

 

Hasil pemetaan Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Pertanian, Kementerian Pertanian, luas lahan rawa di seluruh Indonesia sekitar 33,43 juta ha. Dari jumlah itu, sebanyak 9,53 juta ha ternyata sesuai untuk kegiatan budidaya pertanian.

 

Namun hingga kini luas lahan rawa yang dimanfaatkan untuk budidaya pertanian baru mencapai sekitar 2,270 juta ha. Artinya, baru 23,8% lahan rawa yang dimanfaatkan dari luas total lahan rawa yang sesuai untuk kegiatan pertanian. Sisanya, yang 76,2% atau seluas sekitar 7,26 juta ha masih menganggur alias belum dimanfaatkan. Padahal lahan rawa tersebut secara alami dapat dikembangkan untuk berbagai kegiatan budidaya pertanian.

 

Lahan rawan lebak memang ibarat raksasa yang sedang tertidur. Potensi yang sangat besar tersebut selama ini belum tergarap maksimal. Terlihat dari kontribusi produksi padi di lahan rawa lebak yang hanya 1-1,5% dari total produksi nasional. Ini tidak lepas dari produktivitas tanaman padi yang masih di bawah 4 ton/ha.

 

Kondisi ini karena masih minimnya pengetahuan petani terhadap sistem budidaya di lahan rawa. Memang secara alami lahan rawa memiliki tingkat kesulitan budidaya lebih tinggi dibandingkan lahan pertanian non rawa.

 

Produktivitas yang belum tinggi ini juga dipicu Indeks Pertanaman (IP) di lahan rawa yang masih sangat rendah. Kalau budidaya pertanian di lahan sawah beririgasi teknis mampu menanam selama tiga kali dalam setahun (IP 300), maka petani lahan rawa maksimal tanam hanya dua kali dalam setahun (IP 200). Bahkan mayoritas petani hanya sekali tanam dalam setahun (IP 100). Ira/Yul

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162